Asyiknya Traveling Murah dengan Couchsurfing

Tidakkah anda ingin pergi keliling dunia tanpa keluar banyak UANG? Couchsurfing mungkin merupakan jawaban yang tepat. Apa itu Couchsurfing?

Kegiatan traveling atau berwisata termasuk aktivitas yang menyedot banyak biaya. Terlebih di negara-negara Eropa yang dikenal berbiaya hidup yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan orang harus menabung jika ingin jalan-jalan ke sana.

Adalah Casey Fenton yang memprakarsai pembuatan situs couchsurfing pada tahun 1999. Website ini dibangun untuk menjadi wadah bagi penggemar traveling di berbagai negara agar dapat melakukan wisata ke seluruh dunia dengan biaya yang murah.

Lantas bagaimana caranya? Jika anda tertarik, anda tinggal mendaftar pada situs tersebut dan menjadi anggota serta membangun jaringan pertemanan dengan anggota lain dari seluruh dunia. Anggota situs ini kemudian dinamakan couchsurfer dan merekalah yang nantinya menyediakan diri sebagai house jika teman di situs tersebut akan datang berkunjung.

traveling murah dengan couchsurfing

House inilah yang menyediakan akomodasi untuk couchsurfer yang datang. Selain menyediakan akomodasi, tugas house ini juga untuk menemani para couchsurfer yang datang ke suatu negara.

Dalam perkembangannya, website ini akhirnya menjadi tempat bagi para traveler berkantong tipis untuk dapat wisata murah berkeliling dunia. Kebanyakan anggota yang ikut bergabung pada website itu adalah backpacker. House atau anggota yang kedatangan tamu juga harus bersedia menyediakan tempat tinggal secara gratis.

Serunya Pengalaman di Couchsurfing

Ada pengalaman menarik dari anggota couchsurfing saat berinteraksi dengan couchsurfer yang datang berkunjung. Seperti dituturkan Tanto, seorang couchsurfer di Jogja yang sudah beberapa kali menjadi house bagi couchsurfer yang datang dari berbagai negara, seperti dari Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Rusia, Slovakia, Cina, dan berbagai negara lainnya.

“Aku sering mengajak guest-ku nongkrong di kopi joss, angkringan, ke pelosok desa, bahkan masjid. Dan mereka impressed,” lanjut Tanto sambil tersenyum. Dia mengaku senang dapat mengajak turis asing untuk menikmati Jogja secara lebih dekat.

Pengalaman Tanto selama menjadi house bagi turis asing sangat banyak. “Aku pernah punya tamu yang minta diajari sholat. Dia pengen tahu kehidupan orang Muslim di Indonesia. Dan yang paling berkesan adalah seorang backpacker yang mau menyumbangkan organnya kalau-kalau ada sesuatu padanya,” ujar Tanto berapi-api.

Dia juga bercerita tentang kesenangannya mengajak turis ke kampungnya di Suromadu, Solo. Di sana, Tanto mengajak couchsurfer untuk tinggal dan berinteraksi dengan tetangga-tetangganya. Selain turis senang, penduduk di sana juga tertarik dengan kedatangan orang asing. “Kalau aku ajak ke rumahku, orang-orang pada ngliatin. Tetanga-tetanggaku sampai njulukin aku pembawa turis,” tutur Tanto sambil tergelak.

Meski banyak manfaatnya, Tanto juga memperingatkan banyak orang menggunakan situs ini tidak semestinya. “Kalau sisi buruknya, ada anggota memanfaatkan situs ini benar-benar untuk cari jodoh. Kebanyakan mereka adalah yang tinggal di Timur Tengah kayak Mesir dan Turki,” terang pegawai yang fasih berbahasa Inggris ini. Masih menurut Tanto, ciri orang yang cari jodoh akan membuka rumahnya hanya untuk turis perempuan.

Terlepas sisi negatif dan positif, Tanto mengaku senang bergabung dalam couchsurfing. Baginya, selain dapat mempromosikan Indonesia dengan sisi yang tidak biasa dikenal orang asing, dia juga dapat memperoleh kenalan yang nantinya dapat ia manfaatkan ketika berkunjung ke luar negeri. “Aku ingin mengajak orang asing untuk lives like local dan memberi pengalaman yang berbeda kepada mereka,” kata Tanto.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *